Kusmingki

Bonus Demografi Dan Intelektual: Inovasi Mewujudkan Visi Indonesia Di Tahun 2045

Generarasi milenial dan Generasi z, harusnya perlu menyadari bahwa saat ini kekuatan ekonomi dunia sudah mulai mengalami pergeseran. Dimana selama ini kekuatan ekonomi dunia berada di belahan benua eropa, kini secara perlahan-lahan bergeser menuju ke belahan timur, yakni beberapa negara bagian asia (terutama bagian asia timur dan asia tenggara). Pertumbuhan ekonomi di negara-negara asia mulai menjadi perhatian dunia internasional, perhatian itu mereka tujukan melalui keberanian para pemilik modal untuk melakukan investasi besar-beseran di negara-negara asia.

Seperti yang diketahui melalui data yang disampaikan oleh United Nations Conference On Trade And Development (UNCTAD), melalui World Investment Report 2019. Aliran investasi langsung asing (FDI) yang masuk ke negara-negara berkembang mengalami kenaikan 3,9 persen atau US$512 miliar dari tahun sebelumnya, dalam hal ini negara-negara asia masih merupakan penerima aliran FDI terbesar dunia saat ini.

Sebagai sebuah negara yang memiliki kekuatan sumber daya yang melimpah, memiliki sistem politik bebas aktif, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar ke 4 di dunia yakni dengan jumlah populasi mencapai 273.52361 jiwa menurut laporan worldometer.info, serta merupakan negara yang memiliki sistem demokrasi yang cukup stabil, hal tersebut dapat menjadi peluang yang baik untuk melakukan inovasi Indonesia menjadi negara maju kedepannya.

Tetapi pertanyaannya apakah negara Indonesia mampu mencapai kejayaannya di tahun 2045 dengan bonus demografi yang akan mengalami masa puncaknya pada tahun 2030-2045 mendatang? Untuk itu Indonesia perlu menjadikan negara-negara yang telah berhasil menjadikan peluang bonus demografi sebagai tolak ukur atau strategi untuk memanfaatkan peluang tersebut demi mencapai keberhasilan pembangunan nasional, seperti yang dilakukan oleh negara-nagara berikut diantaranya negara Jepang, Korea Selatan dan negara china pada tahun 1990an.

Pernyataan yang pasti! sebagai negara yang tergolong baru melakukan industrialisasi di berbagai sendi kehidupan untuk mempermudah bentuk-bentuk interaksi atau aktivitas produktif masyarakatnya, Indonesia tidak boleh secara terus-menerus menjadi negara konsumen terhadap negara-negara lainya. Indonesia perlu menjadi tuan rumah bagi warga negaranya, Indonesia perlu menjadi produsen aktif bagi negara-negara pesaing lainnya.

Nilai kompetisi masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan dan masyarakat tidak boleh digeserkan perannya oleh teknologi secara radikal tetapi menyatu melakukan kolaborasi untuk menghasilkan nilai lebih. Untuk memahami lebih jauh bagaimana bonus demografi, kekuatan inteletual dan inovasi untuk mewujudkan visi 2045 negara Indonesia, silahkan disimak bahasan dibawah ini.

Bonus Demografi Indonesia 2030-2040

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kesempatan untuk menghadapi tantangan bonus demografi pada tahun 2030-2040 mendatang. Bonus demografi dapat dikatakan sebagai sebuah harapan kekuatan baru, dan sumber daya pembangunan baru, oleh sebuah negara yang mampu mengelolanya dengan baik, tetapi sekaligus merupakan sebuah ancaman serius bagi negara yang tidak mampu mengelolanya dengan baik.

Pada dasarnya bonus demografi merupakan kondisi dimana sebuah negara mengalami kelebihan populasi penduduk dengan presentase usia produktif lebih besar dibandingkan dengan usia tidak produktif dalam jangka waktu tertentu dan dapat membawa keuntungan bagi sebuah negara sekaligus ancaman. Untuk Indonesia sendiri bonus demografi dapat dimaknai sebagai sebuah harapan baru untuk menjadi negara maju.

Seperti yang disampaikan oleh Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, tepat pada tahun 2030-2040 merupakan momentum bagi Indonesia untuk menerima hadiah bonus demografi, dengan jumlah populasi penduduk usia produktif 15-64 tahun lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah populasi penduduk usia tidak produktif 15 tahun kebawah dan 64 tahun keatas. Faktor berupa produktivitas masyarkat merupakan penentu peningkatan standar hidup, turunya angka kesenjangan sosial, peningkatan pelayanan publik dan peningkatan perekonomian, merupakan bentuk keberhasilan bonus demografi dimanfaatkan oleh negara.

Intelektual Bangsa Indonesia

Menjadikan bonus demografi sebagai momentum untuk melakukan pembangunan sebuah negara secara besar-besaran, tentu merupakan keharusan untuk dilakukan oleh negara. Sebab semakin tingginya angka populasi penduduk dan semakin berkembangan isu global di tengah masyarakat, tuntutan akan kualitas, percepatan dan kemudahan akses layanan publik akan semakin kompleks. Negara tidak lagi hanya dihadapkan pada persoalan yang mendasar saja tetapi akan lebih daripada hal tersebut.

Untuk itu, dalam mewujudkan negara menjadi sebuah negara yang Adidaya, dan Makmur dalam segala bentuk sistem baik politik, hukum, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Indonesia memerlukan kekuatan intelektual bangsa, sebab untuk menghasilkan pelayanan yang berkualitas dan dekat dengan masyarakat, negara harus hadir dengan sistem yang modern, visioner, agile, efektif, efisien, dan akuntabel.

Seperti sebuah kisah nyata dari buku karangan William Kamkwamba dan Bryan Mealer dengan judul “The Boy Who Harnessed The Wind”. Kisah tersebut menceritakan bagaimana seorang pemuda yang berasal dari keluarga petani Tembakau di sebuah kota bernama Malawi, Negara Afrika bagian Selatan, mampu mengelola kekuatan intelektualnya menjadi sebuah alat yang dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi di kotanya.

Kota Malawi merupakan sebuah kota kecil di negara Afrika bagian Selatan. Kota Malawi mengalami kondisi krisis lingkungan, pohon-pohon yang ada dikota tersebut telah habis di tebang. Sehingga ketika terjadi musim hujan berkepanjangan tiba, para petani Tembakau mengalami kegagalan panen, demikian juga ketika musim kemarau Panjang tiba, masyarakat yang mayoritas petani Tembakau kesulitan untuk melakukan pembukaan lahan karena kondisi yang kering membuat Tembakau tidak memungkinkan untuk ditanam pada lahan yang tandus tersebut.

Melihat masalah kekeringan yang dialami oleh kota Malawi, sehingga membuat masyarakat di kotanya tersebut tidak dapat menaman tembakau, seorang pemuda bernama Maxwell Simba, anak dari seorang petani tembakau, nememukan sebuah ide untuk membangun sebuah kincir angin untuk memopa air dari dalam tanah yang selanjutnya dialirkan ke lahan para petani, agar pengarian di lahan petani dapat membuat mereka mampu nenamam tembakau Kembali. Dari jerih payahnya, Maxwell Simba mampu menjadi pahlawan bagi kotanya, masyarakat akhirnya dapat menikmati air dari kincir angin yang dibuatnya.

Kisah tersebut merupakan sebagian dari banyaknya kisah-kisah nyata lainya tentang bagaimana dahsyatnya kekuatan intelektual mampu membangun sebuah pradaban yang maju. Negara Indonesia juga memiliki banyak kaum-kaum intelektual yang memungkinkan dapat dijadikan senjata untuk membangun Indonesia menjadi negara maju. Indonesia sudah memiliki ribuan diasporanya di luar negeri, yang jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik dapat menguntungkan Indonesia.

Intelektual-intelektual yang dimiliki oleh sebuah negara, dapat menjadikan negara tersebut menjadi maju. Peristiwa itu dapat dilihat misalnya dari negara-negara yang memiliki keterbatasan sumber daya sperti dikutip dari  idntimes.com, misalnya Singapura kekurangan air bersih sehingga harus impor dari negara tentangganya, Jepang, Islandia, Belanda, dan Jerman, mereka merupakan negara-negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam tetapi mereka memiliki kekuatan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu memanfaatkan sesuatu yang berukuran kecil menjadi bernilai besar. Artinya adalah sangat penting bagi sebuah negara memiliki intelektual-intelektual yang mampu membawa perubahan kemajuan bagi negaranya.

Bonus Demografi, Intelektual Dan Inovasi: Menjadikan Tantangan Sebagai Peluang Menuju Kemanfaatan

Visi Indonesia maju 2045 mungkin tidak akan tercapai jika Indonesia tidak memiliki sumber daya manusia yang memadai, jikapun Indonesia memiliki banyak diaspora di luar negeri saat ini namun tetap miskin inovasi, visi tersebut tidak akan tercapai. Lalu apa kuncinya? Bonus demografi harus dilakukan pembangunan sumber daya manusianya tanpa meninggalkan penunjang infrastruktur lainya, dalam hal ini Indonesia memerlukan telenta-talenta pembangun dari diaspora yang dimiliki bangsa. Selanjutnya untuk mendukung percepatan perubahan itu, negara perlu melakukan inovasi sektor publik, agar negara tidak bergerak diam ditempatnya.

Inovasi pada dasarnya merupakan kemunculan sebuah ide yang dibarangi dengan praktek untuk memunculkan perubahan yang baru atau sebuah perjalanan adopsi untuk menciptakan perubahan. Rogers dalam Oldenburg (2008) misalnya menyampaikan bahwa inovasi adalah sebuah ide, praktek yang mampu menghasilkan temuan baru oleh seorang individu atau suatu kelompok dalam mengadopsi suatu yang baru untuk menciptakan perubahan. Inovasi tidak akan berhasil jika ia tidak dilakukan dengan komponen seperti relative advantege, compatibility, coplexcity, triability dan observability.

Berikutnya keterkaitan antara bonus demografi, intelektual dan inovasi untuk visi Indonesia 2045. Indonesia perlu menggagas sebuah regulasi untuk melakukan inovasi sektor publik. Pandemi COVID-19 seperti saat ini, pada dasarnya dapat dijadikan momentum untuk melihat bagaimana kekurangan yang dimiliki oleh Indonesia dijadikan sebagai landasan berpikir pemerintah untuk melakukan inovasi sektor publik.

Melihat perlambatan pelayanan sektor publik hingga sektor bisnis akibat dari kegagapan hingga ketidakcukupan alat untuk menunjang percepatan pelayanan publik dari pemerintahan, akibat dari proses disrupsi yang terjadi tanpa aba-aba Indonesia dapat dikatakan belum siap menggelola bonus demografi jika tidak segera melakukan inovasi. Indonesia memang sudah memiliki setidaknya sebuah regulasi yang memungkinkan dapat membawa angin segar bari pembahruan inovasi kedepannya.

Regulasi itu merupakan undang-undang nomor 11 tahun 2019 tentang sistem nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimana ia merupakan awal dari kemunculan program integrasi ekosistem riset dan inovasi, Indonesia satu data, satu peta, aplikasi pengaduan cepat (LAPOR) dan lembaga-lembaga pembiayaan dibidang Pendidikan dan ilmu pengetahuan, seperti LPDP, LIPI dan dana ABDI Pendidikan. Tetapi dalam satu ruang yang sama Indonesia juga masih memiliki berbagai macam persoalan yang berkaitan dengan kemudahan akses layanan Kesehatan, Pendidikan, infomasi yang cepat, sistem hukum yang berkeadilan, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Indonesia belum mampu menghadirkan keadilan yang merata, kesenjangan antara kota dengan desa masih sangat tinggi. Untuk memperbaiki kondisi yang demikian, Indonesia membutuhkan mobilisai yang merata dengan menyediakan layanan yang berkualitas. Misalnya Indonesia yang saat ini sudah ingin menginjak usia ke 76 tetapi persoalan integrasi regulasi antara daerah dan pusat serta kemerlutan satu data, masih menjadi persoalan yang serius. Mengapa kondisi seperti ini terjadi? Sebab negara Indonesia masih ketinggalan ilmu pengetahuan dibidang riset dan teknologi.

Ilmu pengetahuan, riset, inovasi dan teknologi sangat diperlukan Indonesia untuk menjadi negara maju. Menjadi negara yang menyepakati untuk masuk dilingkungan global, masyarakat perlu terbiasa melihat kondisi pasar dan untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat perlu berkolaborasi dengan teknologi. Bagaimana melakukannya? Pemerintah saat ini mendorong pembangunan di sektor teknologi sebab membangun ekonomi negara untuk menjadikannya besar, negara membutuhkan yang dinamakan dengan sistem ekonomi berbasis pengetahuan.

Pemerintah bersama masyarakat dan dunia usaha harus berkolaborasi membentuk tata kelola yang kuat, menjadikan teknologi sebagai media untuk mengubah negara bukan untuk menggeserkan peran manusia dengan teknologi itu sendiri, dalam kondisi seperti inilah kolaborasi itu diperlukan. Kolaborasi manusia dengan teknologi yang dimaksudkan adalah dimana pemerintah menyediakan ruang publik untuk mengumpulkan berbagai macam talenta yang dimiliki oleh masyarakat dengan kompleksitas ilmu pengetahuannya, menghasilkan sebuah karya yang dapat dinikmati oleh dunia, yang mana nantinya menghasilkan income untuk Indonesia itu sendiri.

Indonesia harus optimis mampu meraih kemajuan di usianya yang ke 100 di tahun 2045 mendatang. Indonesia memiliki kebudayaan dan pengetahuan lokal yang dapat memberikan nilai lebih di pasar internasional. Jika itu didukung oleh pemerintahan yang kuat, ditambah lagi dengan diaspora-diaspora yang dimiliki oleh Indonesia. Negara Indonesia pasti mampu menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi dan merebut posisi kelima atau keempat sebagai negara maju di dunia di tahun 2045. Bonus demografi dan intelektual yang dimiliki oleh bangsa dapat dijadikan sebagai tantangan untuk menjemput keberhasilan pembangunan nasional.

Referensi:

UNCTAD. 2019. World Investment Report 2019. https://unctad.org/webflyer/world-investment-report-2019

Oldenburg, B., & Glanz, K. 2008. Diffusion of innovations. Health behavior and health education: Theory, research, and practice, 4, 313-333.

Martens, A. (2011). The Boy Who Harnessed The Wind. Literacy Learning: The Middle Years, 19(2), 44-46.

(Penulis, Kusmingki – Mahasiswa Prodi Administrasi Publik UWM Angkatan 2018)

HANTU-HANTU DIGITAL

Selama ini entitas hantu ataupun makhluk halus selalu dicitrakan negatif oleh mayoritas media massa. Ada beberapa faktor yang dianggap menjadi penyumbang pelanggengan imej negatif para hantu, yakni soal selera pasar, kemampuan para kreator dan medianya, serta kebijakan pemerintah terkait pencitraan sosok makhluk halus di media. Jika kita perhatikan dari perjalanan pengisahan hantu di Indonesia telah banyak mengalami perubahan lika-liku yang berpola.

Namun ada sebuah benang merah yang menjadi urgensi, yakni soal penggambaran sosok hantu itu sendiri. Baik di media televisi maupun film, sosok hantu sering kali ditampilkan sebagai peran antagonis yang memiliki sifat jahat dan buruk. Sebab hantu atau makhluk halus selalu dipersepsikan sebagai “pengganggu” yang lekat sebagai hal negatif. Segala hal yang berhubungan dengan hantu dan makhluk halus pun pada akhirnya dicap sebagai hal menyimpang, seperti contohnya jika ada beberapa manusia yang memiliki kemampuan yang terkait dengan ilmu-ilmu gaib pun malah dianggap sebagai magis, klenik, kafir, dan salah. Bila direfleksikan, memang ketidakmampuan manusialah yang justru menjadikan pemaknaan atas dunianya menjadi sempit. Sehingga hal-hal semacam hantu atupun makhluk halus ini dipahami sebagai persoalan yang irasional dan tidak logis.

Ada sebuah problematika besar dalam tayangan mistik yang selama ini dilanggengkan oleh media massa konvensional, yakni lebih menekankan form ketimbang konten dari mistisnya (van Heeren, 2007). Karena sifatnya masih konvensional, para kreator tayangan horor di televisi malah menekankan padahal teknis seperti kamera inframerah, rekaman suara hingga paranormal yang menjadi mediator antara khalayak dan alam gaib, tayangan-tayangan tersebut berupaya untuk membuat penonton menjadi takjub dengan fenomena gaib yang tampil di layar kaca mereka. Mereka justru luput untuk menarasikan pesan di balik kejadian-kejadian hantu tersebut, atau memang karena adanya batasan-batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia dan Lembaga Sensor di Indonesia.

Adanya media digital yang dianggap sebagai media baru masa kini secara perlahan dan pasti merubah imej hantu ataupun makhluk halus yang sering kali dianggap sebagai “gangguan”, atau dalam Ilmu Komunikasi disebut sebagai “noise”. Media digital pada dasarnya juga merupakan sebuah alat komunikasi yang mampu menyampaikan ide dan gagasan secara massiv. Bedanya adalah ia telah memiliki fitur-fitur interaktivitas yang tidak dimiliki oleh media konvensional.

Tahun 2018 muncul kanalYoutube Jurnalrisa yang menyajikan pengkonstruksian hantu yang dikemas secara “fun” atau menyenangkan dan ceria. Hal ini lantas menjadi sangat kontradiktif dengan imej hantu yang telah dikonstruksikan di media massa konvensional. Jurnalrisa merupakan sebuah kanal Youtube yang ekslusif menayangkan konten vlogger mistik yang dikelola oleh Risa Saraswati dan tim. Jurnalrisa terbilang sangat kreatif dan uniksebabmampumerubahcara-cara lama tentangpengkonstruksianhantu di media massa dengan menggunakan platform Youtube. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh penulis, Jurnalrisa tercatat telah melakukan sekitar 5 metode jurnalisme horror dalam proses peliputan dan penyajian konten mistik di kanalnya, yakni #tanyarisa, #jurnalrisapenelusuran, Jurnal Cerita Misteri, Jurnal Cerita Sejarah, dan Ghost cartour. Jurnalrisa selalu menggunakan praktik mediasi dengan hantu-hantu untuk mengajak mereka berbincang dan bercerita santai – yang secara jelas hal ini menjadi sangat mustahil bila dilakukan di media televisi.

Mereka biasanya mendatangi tempat-tempat seram, kemudian melakukan investigasi dengan para hantu atau makhluk halus di sana untuk bercerita dan membagikan kisahnya. Uniknya, Jurnalrisa secara jelas mendekonstruki sosok hantu sebagai subjek aktif, dan sebagai makhluk hidup. Mereka didekonstruksi sebagai subjek masih memiliki kehidupan, sebab masih memiliki pemikiran, intelektualitas, dan ilmu pengetahuan yang dapat dibagikan kepada manusia.

Mereka mampu merasakan energi dan memiliki emosi, serta memiliki etika dalam bersikap. Merekapun dihadirkan ulang dan diperlihatkan sebagaibagiandarialamataumakhlukhidup yang pada masa kini dijadikan sebagai fenomena kejadian sejarah di masa lampau. Sebagaimana pendapat McLuhan (1964) bahwa kehadiran media digital telah merubah cara berpikir manusia tentang dirinya dan alam semesta. Pemosisisan manusia sebagai konsumenpun berubah dari sebutan audiens (khalayak) menjadi user (pengguna).

Mereka secara bebas berperan sebagai produsen sekaligus konsumen produk budaya. Selama pandemi Covid-19, Jurnalrisa pun terus aktif memproduksi konten horornya dengan mengajak para penontonnya untuk menjadi peliput kisah horor di rumah mereka. Para penonton diminta untuk mengirimkan video hasil liputan mereka, lalu tim Jurnalrisa memanggil sosok hantu di video tersebut dan diajak bercerita di Jurnal Cerita Misteri. Selain itu, adanya pembatasan PPKM juga turut menelurkan ide kreatif Ghost car tour dengan melakukan penelusuran dan mediasi gaib di dalam mobil. Jurnalrisa menganggap bahwa keberadaan hantu ataupun makhluk halus tidaklah melulu negatif dan salah. Mereka perlu dipahami bersama-sama dengan dihadirkan sebagai subjek aktif yang hidup berdampingan dengan kehidupan sosial manusia.

(Penulis, Nur Amala Saputri,S.I.Kom., M.A.)

BURNOUT MENJADI ANCAMAN KESEHATAN MENTAL SAAT WORK FROM HOME

Ada begitu banyak kasus yang berkaitan dengan psikologis manusia saat pandemi Covid-

19 melanda hampir seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Banyaknya orang yang mengalami permasalahan kesehatan mental akibat pandemi Covid-19 bisa dipahami mengingat pandemi Covid-19 merupakan sumber stres baru bagi masyarakat dunia saat ini. Pandemi Covid-

19 juga membuat orang-orang yang dulunya punya mobilitas bekerja yang tinggi kini harus sedikit melambat dengan bantaun akses daring atau biasa dikenal dengan Work From Home (WFH).

Work from home (WFH) menjadi sebuah sistem yang muncul semenjak pandemi muncul. Bekerja di rumah dilakukan agar penularan virus Covid-19 bisa ditekan. Bagi sebagian orang Work  From  Home  (WFH) menjadi  hal  yang  menyenangkan  karena  bisa  lebih  santai  tanpa dikejar-kejar  jam  masuk  kantor.   Namun  di  balik  sebuah  Work  From  Home  (WFH)  dapat membuat seseorang mengalami kesehatan mental yang buruk.

Walaupun waktu dengan keluarga menjadi lebih banyak karena tidak harus bekerja di luar rumah. Padahal ada bahaya yang mengintai sistem kerja ini yaitu Burnout.Banyak orang menganggap Work From Home (WFH) jauh dari kata stres dan kelelahan. Nyatanya pekerja bisa mengalami burnout meski sedang Work From Home (WFH). dilansir dari laman resmi WHO, burnout adalah sindrom yang muncul karena stres selama bekerja. Stres tersebut tidak tertangani secara baik sehingga mengganggu pekerja.

Penyebab  burnout  dapat  berupa kelelahan  selama  Work From  Home  (WFH)  Karena seseorang tidak  bisa  memisahkan  pekerjaan  dengan  kehidupan pribadinya  Menurut  Andrew Schwehm, ahli psikologis klinis, dikutip dari The Muse, banyak orang kesulitan membagi waktu

saat Work From Home (WFH).  Kehidupan kerja dan pribadi yang menjadi satu membuat banyak pekerja kebingungan memisah nya. Terkadang mereka bekerja lebih dari 8 jam karena kesulitan menentukan jam kerja. Kebiasaan ini lambat laun berefek pada tubuh dan pikiran. Burnout akan muncul jika kebiasaan ini tidak teratasi.

Semakin banyak inovasi yang membantu seseorang bekerja agar lebih efektif, namun justru itu membuat seseorang bekerja lebih banyak dan pekerjaan juga akan selalu bertambah sampai seterusnya. Ini mentalitas kerja di abad 21, if you can do more, why not do more? Well, because….di tahun 2021, WHO memasukkan burnout ke dalam klasifikasi penyakit yang bisa berkontribusi terhadap kesehatan mental.

Dilansir dari situs Greatmind.com, Ada tiga dimensi yang mendefinisikan burnout, yaitu:

1. Exhaustion, artinya kelelahan, lemah, kekurangan energi, secara fisik maupun emosional.

2. Cynicism, sempat disebut juga depersonalisasi, yaitu saking capeknya, mulai ada perilaku dan mindset negatif kepada orang lain, gampang kesal, tidak ingin bersosialisasi, dan juga kalau idealisme mulai hilang.

3. Inefficacy,  jadi  produktivitas  atau  pencapaian  yang  menurun,  termasuk  juga  hilangnya kepercayaan diri dalam bekerja.

Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami salah satu dari ketiganya. Yang berbahaya adalah saat    ketiganya    terjadi    bersamaan,    dan    dibiarkan    saja,    atau    tidak    ditindaklanjuti. Karena burnout adalah efek jangka panjang dari situasi kerja yang menekan.

Melansir dari Forbes (29/03/2020), ada sebuah tanda-tanda burnout yang dapat dilihat. Pekerja akan kesulitan berkonsentrasi saat bekerja. Mereka juga lebih sulit menangkap informasi yang disampaikan.  Pekerja  cenderung  mengindari  pekerjaan. Tidak  jarang  karyawan  terlambat mengikuti rapat online. Pekerjaan mereka juga sering tertunda atau telat.  Efek burnout selama Work From Home (WFH) juga membuat performa kerja menurun dan bedampak pada kualitas pekerjaan karyawan tidak sebaik biasanya.

(Penulis, Aulia Azizah)

Shulbi Muthi Sabila SP,M.I.Kom

ESENSI “PENGORBANAN” DI HARI RAYA IDUL ADHA DALAM MASA PANDEMI

Tak terasa dua tahun sudah kita merayakan hari Raya Idul Adha dalam kondisi yang masih sangat memprihatinkan. Lonjakan kasus Covid-19 yang masih terus meningkat membuat suasana di tahun ini dipenuhi oleh duka yang mendalam terutama dari keluarga maupun kerabat yang ditinggalkan. Kondisi inilah yang pada akhirnya membuat masyarakat pasrah dengan apapun kebijakan yang diputuskan oleh Pemerintah, dari mulai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang satu sisi dirasa begitu mencekik sebagian kelompok masyarakat yang perekenomiannya terdampak secara signifikan. Hingga tibalah hari ini, dimana umat muslim dunia merayakan Hari Raya Idul Adha dengan suasana yang berbeda. Protokol kesehatan masih harus dilakukan secara ketat, begitupun saudara kita yang sedang mengerjakan ibadah haji dan umrah di tanah suci, dengan tujuan agar kita semua ummat muslim terlindungi dan terjaga kesehatannya.

Syekh Izzudin Abdussalam berkata:

من سعادتي لزومي لبيتي، وتفرغي لعبادة ربي، والسعيد من لزم بيته، وبكى على خطيئته، واشتغل بطاعة الله

Artinya: Termasuk keberuntunganku adalah dapat berdiam diri di dalam rumahku, dan meluangkan waktu untuk beribadah kepada Tuhan-ku. Orang yang beruntung ialah orang lebih banyak berdiam di dalam rumah, ia menangis karena menyesali dosanya, dan ia menyibukkan diri untuk taat beribadah kepada Allah SWT.

Dari kutipan diatas, kita dapat memetik pesan positif , dimana kita perlu menyadari bahwasannya moment pandemi seperti ini adalah kesempatan kita untuk meluangkan waktu beribadah kepada Tuhan, yang mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Begitupun dengan moment Idul Adha saat ini yang mengajarkan kita tentang arti penting sebuah pengorbanan dengan cara mengeluarkan apa yang terbaik dari milik kita untuk disedekahkan. Rasa empati dengan membantu sesama menggambarkan mulianya seseorang yang mau berkorban dengan mengulurkan apapun yang dimilikinya untuk orang lain , termasuk dengan menyembelih hewan-hewan kurban untuk dibagi-bagikan adalah bentuk ketaatan kita menjalankan perintah Allah SWT. Maka dari itu, esensi dari pengorbanan itu sendiri sama halnya dengan membuang jauh tabiat-tabiat buruk, keserakahan, sikap egois, tinggi hati dan lain sebagainya. Seseorang yang mampu melakukan itu maka dirinya menjadi pribadi mulia sebagaimana ciri-ciri orang bertakwa.

Mudah-mudahan dikondisi seperti ini menjadikan kita seorang yang bijaksana, minimal kita tidak egois dengan mementingkan hasrat pribadi. Semoga kita selalu diberikan keselamatan , kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT sehingga kita masih punya waktu untuk segera bertaubat, menyadari segala kesalahan dan dosa-dosa kita. Aamiin Yaa Rabbal Alamin….

(Penulis, Shulbi Muthi Sabila SP,M.I.Kom)

Zalsabila Putri Fildzah

SOLUSI ATAU BUKAN? : BERDIAM DIRI DI RUMAH SAJA

31 Desember 2019, pada saat itu dunia digegerkan dengan munculnya kasus penyebaran Wabah Virus Covid-19 yang dikabarkan bermula dari kota Wuhan Cina. Virus Covid-19 adalah virus yang disebabkan oleh jenis coronavirus baru yaitu Sars-CoV-2.  Dilansir melalui m.liputan6.com menurut laporan Science Alert, pihak WHO sebelumnya menyebut Virus tersebut sebagai penyakit pernapasan akut 2019-nCov. Lalu pihak WHO sepakat mengganti namanya sebagai Virus Covid-19 yang di mana pernamaan tersebut berasal dari Corona Virus Disease. Di mana penyebaran virus ini diduga berasal dari hewan kelelawar atau trenggiling yang terkontak langsung oleh manusia.

Selang beberapa waktu kemudian, laju pertumbuhan virus ini mulai bergerak dengan pesat. Hingga sampai pada tanggal 9 Juni 2020, virus ini akhirnya hinggap juga di Indonesia dan memberikan banyak dampak bagi seluruh masyarakatnya. Semua mengalami perubahan, baik kegiatan aktivitas fisik sehari-hari, kegiatan berinteraksi sosial, hingga sampai ke sektor pendidikan dan perekonomian pun turut andil dalam persoalan tersebut. Maka tak jarang dari mereka yang mengeluh dalam menerima keadaan baru ini, dan konon katanya sangat merugikan mereka.

Berawal dari satu jiwa yang terpapar virus Covid—19, lalu akhirnya bertambah menjadi dua jiwa hingga mulai bermunculan jiwa-jiwa lainnya yang terpapar virus ini. Lonjakkan kasus angka orang yang tertular Virus Covid-19 ini mulai melebihi garis normal. Bahkan tak hanya itu, kenaikkan angka kematianpun turut ikut berpartisipasi setiap harinya. Karena situasi saat itu mulai mencekam, akhirnya seluruh negara yang ada di dunia ini memberlakukan sistem pencegahan virus Covid-19 dengan melakukan sistem Lockdown.

Di mana, aktivitas yang biasanya kita bisa lakukan di luar rumah seperti misalnya, bekerja, belajar, berbelanja, berolah raga dan lain sebagainya. Kini kegiatan tersebut terpaksa harus dibatasi dan bahkan dialihfungsikan dengan melakukan semuanya itu cukup di rumah saja. Tak hanya semua kegiatan di luar baik waktu maupun kapasitas kunjungannya yang wajib dibatasi, melainkan mereka juga wajib menerapkan Protokol Kesehatan atau dapat kita singkat Prokes yang sudah diatur oleh pemerintahan. Dengan minimal memakai masker saat keluar rumah dan melakukan Physical Distancing saat berada disuatu tempat. Hal ini diberlakukan agar dapat meminimalisir resiko penularan Virus Covid-19 ini yang terbilang sangatlah cepat.

Namun hal ini mengandung banyak pro dan kontra bagi dikalangan masyarakat. Pasalnya banyak dari mereka yang mengalami kesulitan. Seperti di bidang sektor ekonomi, banyak dari mereka yang mengeluh soal penurunan dari pemasukkan pendapatan mereka karena waktu dan kapasitasnya dibatasi. Lalu adapun di bidang pendidikan, banyak dari mereka yang mengeluh ketika dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Di mana banyak para siswa yang kesulitan dalam mencerna materi pendidikan dari guru pengajarnya yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti, kurang memadainya fasilitas berupa alat media pembelajaran, kesulitan dalam mengakses pelajaran akibat gangguan sinyal atau kuota yang terbatas, juga tak jarang masih ada juga orang tua atau anak yang tidak mengerti bagaimana cara mengoprasikan medianya.

Tidak hanya dikedua bidang itu saja, adapun dibidang kesehatan yang memang jika dilihat dari kacamata sisi positifnya, himbauan dirumah saja memang terbilang efektif untuk mencegah penularan Virus Covid-19 ini. Namun ternyata di sisi lain, hal ini juga dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan kita. Dikutip dari CNN, bahwa terlalu berlama-lama berdiam diri dirumah ternyata mampu mempengaruhi kondisi fisik kesehatan kita seperti, kehilangannya kekuatan otot akibat mengurangnya aktivitas fisik yang pada akhirnya menimbulkan rasa malas untuk bergerak. Ahli Fisiologi Keith Bear mengatakan, “butuh waktu berbulan-bulan untuk membangun kekuatan otot, tetapi hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk menghilangkan kekuatan otot”. (sumber: health.detik.com)

Lalu kondisi Jantung,paru-paru, serta metabolisme tubuh yang melemah. Hal ini diakibatkan kurangnya melakukan aktivitas fisik, serta kurangnya asupan paparan sinar matahari juga yang dapat mempengaruhinya. Akibatnya malah banyak dari kita yang jadi gampang sakit. Karena yang biasanya fisik kita diporsir untuk melakukan banyak kegiatan, tiba-tiba dikendurkan aktivitasya.

Kemudian perubahan bentuk tubuh akibat kurangnya aktivitas fisik. Seperti mengalami kegemukkan karena tidak bisa mengontrol jumlah asupan makanan yang kita konsumsi. Atau disebabkan karena tidak banyak melakukan aktivitas fisik, sedangkan otak dipaksa bekerja secara intens. Terakhir ada juga perubahan pola tidur dan meningkatnya kasus depresi akibat perubahan rutinitas sehari-hari akibat pandemik Covid-19 ini.

 Untuk itu, dibutuhkan pertimbangan yang cukup matang dalam menghadapi situasi saat ini. Jika kita memfokuskan satu permasalahan saja, itu tidak cukup dalam memerangi semua masalahnya. Yang ada malah akan menimbulkan efek permasalahan yang baru. Virus Covid-19 memang sangat berbahaya bagi kita. Namun, permasalahan diluar itu juga wajib kita atasi. Lalu bagaimana caranya kita dapat menghalau permasalahan yang sedang terjadi saat ini? Apakah menjadi sebuah solusi, jika kita hanya menerapkan sistem berkegiatan cukup di rumah saja, namun diluar itu segala macam masalah justru bertaburan di mana-mana?.

Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Dalam mengatasi lonjakkan kasus penyebaran Virus Covid-19 ini, dibutuhkan kerjasama yang tepat baik pemerintah maupun masyarakatnya. Terlebih dahulu dilihat dari kerjasama antar masyarakatnya yaitu dengan menerapkan pola hidup yang sehat seperti berolah raga, berjemur, mengedepankan protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun ia berada. Juga usahakan melakukan kegiatan yang positif seperti mengistirahatkan kinerja otak, serta jika ada kegiatan yang mengharuskan ia keluar rumah, pastikan kegiatan tersebut hanya kegiatan yang dianggap penting seperti bekerja, berbelanja, berolah raga dengan mengedepankan protokol kesehatan.

Lalu kerjasama antar anggota pemerintahannya dapat dilakukan dengan memberikan sosialisasi terkait masalah ini kepada masyarakat dengan menghimbau selalu terkait kewajiban menerapkan protokol kesehatan. Kemudian, membiarkan mereka yang berwirausaha untuk melakukan kegiatan perekonomiannya namun dalam catatan lebih membatasi kapasitas pengunjungnya dibandingkan waktunya. Kecuali dalam dunia pariwisata, di mana seharusnya ini yang harus dibatasi baik kapasitas maupun waktu oprasionalnya. Adapun hal yang paling utama dalam mengatasi akar permasalahan ini, yaitu dengan memberikan jaminan pelayanan fasilitas yang mendasar bagi mereka khususnya masyarakat yang tinggal dibawah garis kemiskinan.

Dengan terpenuhnya kebutuhan dasar mereka seperti, pendidikan, kesehatan, dan bahan pangan, maka semua permasalahan yang diluar masalah adanya pandemik ini juga mampu teratasi hingga akarnya. Sehingga, masyarakatpun tidak akan keberatan jika penerapan kebijakan dirumah saja harus ditaati. Karena adanya kerjasama ini, kasus pandemik Covid-19 serta permasalahan sosial lain pun akan segera teratasi dengan kurung waktu yang cepat dan efisien.

(Penulis, Zalsabila Putri Fildzah)

IDULFITRI, MOMENTUM UNTUK MEREFLEKSI DIRI

Idulfitri merupakan moment yang sangat sakral bagi Umat Muslim diseluruh duniah. Hari ini adalah moment kemenangan. Kemenangan dari hawa nafsu. Hasil dari berpuasa selama 1 bulan secara penuh, pada hari ini umat muslim dikembalikan lagi menjadi suci, bersih tanpa dosa. Bahkan, terkadang kita mendengar ada yang memberikan analogi seperti bayi yang baru lahir didunia. Hari Idulfitri seluruh Umat Muslim saling memohon maaf atas kesalahan yang pernah mereka lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja. Hari ini silaturahmi menjadi moment yang menyenangkan. Saling berkumpul baik itu bersama keluarga ataupun mengunjungi tetangga dan kerabat untuk semakin mempertebal persaudaraan.

Namun, apakah kemudian permohonan maaf akan membuat melupakan kejadian yang menimpanya? Umat Muslim tentu mengenal Wahsyi Bin Harb. Sebelum merdeka, beliau adalah budak dari Jubair Bin Muth’im. Wahyi yang saat itu masih menjadi budak, dijanjikan akan mendapatkan kemerdekaannya jika mampu membunuh paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib. Pada Perang Ubud, akhirnya Wahsyi mampu membunuh Hamzah dengan melemparkan lembing yang tepat menembus dadanya. Walaupun paman Nabi meninggal dalam keadaan sahid, namun kesedihan yang mendalam juga dirasakan karena beliau meninggal dalam keadaan tragis.

Setelah Perang Uhud, Wahsyi mendapatkan kemerdekaannya namun tidak mendapatkan kebahagiaan. Beliau kemudian meminta maaf kepada Nabi Muhammad SAW. Pada pertemuannya dengan Rasul, dikatakan bahwa Rasul memaafkan Wahsyi namun beliau tidak mau untuk melihat Wahsyi lagi. Dengan bertemu dan melihat Wahshy, Rasul khawatir akan selalu teringat akan kematian paman yang ia cintai (Abdurrahman, 2020).

Apakah dengan permintaan maaf maka sebuah kasus dapat diselesaikan? Apakah dengan permintaan maaf, maka kasus yang masuk ke dalam peradilan dapat dihentikan? Dalam proses permintaan maaf diperkenankan untuk memberi “syarat”. Seperti yang dilakukan oleh Rasul pada saat Wahsyi meminta maaf. Setelah syarat tersebut telah dipenuhi maka, tidak ada alasan untuk memperpanjang permasalahan. Sebenarnya disadari atau tidak, pada proses permintaan maaf terdapat relasi kuasa didalamnya.

Dalam relasi kuasa terdapat hubungan saling ketergantungan antara pihak yang memegang kekuasaan dan yang menjadi objek kekuasaan (Martin, 98 : 1995). Walaupun saling bergantung, tentunya terdapat ketidakseimbangan hubungan pada kasus ini. Bagi pihak yang mendapatkan vonis bersalah, mereka akan berada diposisi bawah karena muncul rasa kurang nyaman telah membuat sebuah kesalahan. Hal ini tentu akan terus melekat pada diri seorang tersebut, sehingga untuk membuatnya menjadi lebih seimbang tentunya negosiasi dilakukan. Diperlukan diskusi yang mendalam dan tuntas pada proses permohonan maaf agar refleksi dan negosiasi terbentuk dan meningkatkan kesimbangan antara pihak yang memegang kekuasaan dan yang menjadi objek kekuasaan tersebut. Idulfitri tentunya dapat menjadi momentum yang tepat dalam melakukan hal ini. Melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukan selama satu tahun ke belakang. Memberikan syarat baik itu kepada diri sendiri ataupun orang lain pada saat meminta maaf. Bahkan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama kepada diri sendiri pun orang lain juga merupakan syarat yang diberikan dan negosiasi yang dilakukan agar mendapatkan kesimbangan tersebut. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang berkembang menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk sesama.

(Penulis, Latifa Zahra, S.I.Kom, M.A-Kaprodi Ilmu Komunikasi)


Daftar Pustaka
Abdurahman, Faisal. 2020. Wahsyi bin Harb, Ia Tebus Dosa Membunuh Hamzah dengan Menghabisi Musailamah Al-Kadzdzab. Diambil dari https://pecihitam.org/wahsyi-bin-harb-ia-tebus-dosa-membunuh-hamzah-dengan-menghabisi-musailamah-al-kadzdzab/ pukul 23:41 WIB
Matin, Roderick. 1995. Sosiologi Kekuasaan. Jakarta : Rajawali Press

Optimistik Menyambut Mahasiswa Baru Dalam Masa Pandemi Covid 19

Pendidikan merupakan keniscayaan bagi masyarakat, hak kewarganegaraan dan tentu hak azasi manusia. Pendidikan telah bergerak menjadi kebutuhan yang  mendekati tingkat primer yang selama ini berada pada tingkat sekunder. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sandang pangan semakin dipengaruhi oleh pendidikan. Lemahnya pendidikan dapat merupakan bagian yang mengancam pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Bahkan, pendidikan merupakan bagian utama dalam berbagai aspek  kehidupan.

            Pandangan di atas merupakan komitmen Fisipol UWM untuk senantiasa melaksanakan pendidikan di bawah Yayasan Mataram dalam berbagai aktivitas, baik akademik maupun non akademik. Pelaksanaan pendidikan yang juga senantiasa mampu beradaptasi dalam berbagai aspek perubahan, termasuk dalam keadaan masa pandemi covid-19 pada saat ini.

            Masa pandemi ini Fisipol UWM tetap melakukan beberapa adaptasi  kegiatan, baik pengajaran pendidikan, penelitian maupun aktivitas yang bersentuhan dengan masyarakarat. Aktivitas pendidikan menggunakan basis teknologi informasi secara online sebagian dan sebagiannya dengan offline sembari tetap mempertahankan standar akademik yang baik.

            Mahasiswa baru pun dalam waktu semusim ini akan berlangsung dan merupakan kebanggaan Kami untuk menyambut kehadiran generasi baru yang memiliki kemauan serta cita-cita mempersiapkan serta meraih masa depan melalui pendidikan tinggi  meski pun dalam masa pandemi. Memang pendidikan sebagai kebutuhan yang berkaitan berbagai aspek kehidupan harus terus dijalani dengan beradaptasi dalam situasi dan kondisi yang masih sulit sebagai dampak masa pandemi.

            Kami memahami dan bisa merasakan situasi dan kondisi demikian sehingga Kami juga telah beradaptasi dalam penyelenggaraan pendidikan agar cita-cita bahkan prestasi mahasiswa senantiasa terbuka untuk dicapainya. Meski pun, Kami juga mengalami situasi dan kondisi kesulitan namun, sebagai komitmen maka Kami berusaha keras keberlangsungan pendidikan tetap berjalan dengan baik.

            Beberapa bentuk adaptasi Kami dalam menyambut mahasiswa baru dan menjalankan pendidikan, maka yang utama membangun persepsi, motivasi serta semangat senantiasa bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan pada seluruh sumber daya manusia di Fisipol. Standarisasi pelayanan pendidikan kepada mahasiswa dengan dukungan informasi dan teknologi (IT), senantiasa diberikan yang terbaik,  baik pembelajaran, penyusunan tugas akhir, ujian semester dan akhir maupun pelaksanaan wisuda sebanyak dua kali dalam setiap tahun kalender akademik.

               Di samping adaptasi sumber daya manusia, baik bagi para dosen maupun tenaga kependidikan serta pelayanan pendidikan, baik melalui IT maupun secara langsung di kampus, juga kesigapan para pengurus dalam penanganan masalah, pengambilan kebijakan yang tetap berdaya guna dan berdaya cepat. Kesigapan demikian hanya bisa dijalankan dengan dukungan koordinasi, konsolidasi, komunikasi yang baik serta tanggung jawab tugas pokok pada masing-masing pengurus.

            Kami mempersiapkan yang sebaik-baiknya dengan optimis  dalam menyambut kehadiran mahasiswa baru dalam berbagai aspek sehingga pendidikan berlangsung dengan lancar dan memenuhi capaian yang tertuang dalam visi, misi, tujuan, sasaran serta program kerja program studi dalam satu kesatuan kelembagaan Fisipol.

(Penulis, Dr. As Martadani Noor, M.A.-Dekan Fisipol UWM)