tiga lulusan terbaik Fisipol UWM meraih penghargaan

Lulusan UWM Perlu Menjadi Intelektual Solutif

Lulusan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) perlu menyadari perannya sebagai intelektual yang solutif dalam menghadapi tumpukan masalah sosial di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fisipol Universitas Widya Mataram (UWM) Dr. As Martadani Noor, MA dan Rektor UWM Prof.Dr. Edy Suandi Hamid, MEc kepada 40 lulusan baru Fisipol UWM.

Para lulusan yang terdiri dari 31 dari Program Studi Administrasi Publik (Prodi AP), 6 Prodi Sosiologi dan 3 Prodi Ilmu Komuninasi. Dari semua wisudawan tersebut, lulusan terbaik Ari Sona (Prodi AP) dengan IPK 3,92, dengan masa lulus 3,5 tahun.

Wisuda sarjana ke-64 oleh Rektor dan Dekan serta Ketua Prodi pada acara wisuda di Pendopo Agung UWM  Jl. Tata Bumi Selatan, RT.06/RW.08, Area Sawah, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Sabtu (24/2/2024).

Mereka juga telah mengikuti yudisium dan pelepasan lulusan baru 2023/2024 yang diselenggarakan oleh Dekanat Fisipol UWM di Hotel Tasnem Yogyakarta,Rabu (22/2/2024).

Martadani menyatakan, lulus kuliah merupakan tahapan pendalaman dari ilmu yang sudah dipelajari selama sekolah dan kuliah.

“Menghadapi persoalan di tengah masyarakat dan menemukan solusi dari masalah yang ada, ini merupakan tahapan baru yang disebut pendalaman ilmu pengetahuan dengan persoalan nyata di masyarakat.”

Lulusan perguruan tinggi manapun, menurutnya, akan dilihat oleh masyarakat seberapa peran dan besar sumbangan dalam menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat.

Peran tersebut ditunjukkan oleh para luluasan yang sudah bekerja maupun lulusan yang nantinya bekerja.

Yang sudah bekerja melanjutkan perannya dengan status baru sebagai sarjana, sementara lulusan yang merintis kehidupan baru akan menentukan langkah bagaimana berperan di masyarakat.

Prof Edy Suandi Hamid menyatakan, peran sebagai intelektual solutif bisa diekspresikan oleh lulusan Fisipol terhadap persoalan kontekstual, seperti masalah pasca Pemilu 2024.

“Para lulusan administrasi publik dan sosiologi bisa memainkan peran bagaimana ikut menyelsaikan masalah publik berkaitan persoalan pasca Pemilu 2024. Sebagai lulusan yang berlatar belakang ilmu administrasi publik dan sosiologi, jangan diam saja melihat persoalan-persoalan pasca pemilihan presiden dan legislative.”

Peran menyelesaikan masalah menjadi indikator bagaimana ijazah yang diterima sebagai sarjana baru memiliki makna di tengah masyarakat.

“Ubah ijazah sebagai selembar kertas dengan menjadikan pemiliknya berperan dalam persoalan sosial, politik,dan masalah lainnya.”

Kemudian intelektual bidang administrasi publik,sosiologi dan ilmu komunikasi perlu merencanakan studi lanjutan (S2).

“Tawaran beasiswa sangat banyak dari berbagai lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Akses beasiswa, kuliah lagi. Sebagai intelektual lulusan perguruan tinggi, lanjutkan belajar karena belajar tidak pernah selesai.Saya sebagai profesor tidak Lelah belajar, terus membaca.”

Wisuda ke-64

Prosesi wisuda (UWM) menghadirkan Bregada Kraton Yogyakarta. Sebagai kampus berbasis budaya, UWM selalu mengedepankan nilai-nilai luhur Yogyakarta dalam setiap kegiatannya. Penggunaan Bregada Kraton Yogyakarta dalam wisuda merupakan simbolisasi komitmen UWM untuk melestarikan budaya dan tradisi Yogyakarta, sekaligus memberikan pengalaman istimewa bagi para wisudawan.

Wisuda ini menjadi momentum kemajuan baru UWM karena universitas melahirkan perdana sarjana magister (S2) hukum. Vicki Dwi Purnomo menjadi wisudatawan magister hukum pertama terbaik dengan IPK 3,98 untuk jenjang S2

Wisuda melibatkan 277 sarjana baru,yang terdiri dari S1 dan S2. Sebanyak 269 wisudawan/wisudawati jenjang S-1 dan 8 orang jenjang S-2. 

Mereka yang diwisuda ini terdiri dari 16 orang Prodi) Akuntansi, 10 Prodi Manajemen, 2 Prodi Kewirausahaan, 172 orang dari Prodi Hukum, 31 Prodi Administrasi Publik, 6 orang dari Prodi Sosiologi, 3 Prodi Ilmu Komunikasi, 13 Prodi Arsitektur, 8 Prodi Teknik Industri, 8 Prodi Teknologi Pangan dan Prodi Magister Hukum sebanyak 8 orang.

Dari 277 wisudawan/wisudawati tersebut, 96 wisudawan atau 34,65 % di antaranya memperoleh predikat cumlaude. Dengan wisuda kali ini, jumlah lulusan UWM telah berjumlah 9.756 orang.

Konektivitas Multidisiplin Memajukan Fisipol

Struktur Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram(UWM) priode 2024-2028.

Pemilihan dekan baru dilaksanakan pada 5 Januari 2024 dipimpin Ketua Senat Fisipol Dr. Oktiva Anggraini SIP.S.Pd.MSi. Terdapat dua kandidat Puji Qomariyah, MSi dan Dr As Martadani Noor. As Martadani Noor terpilih menjadi dekan baru.

Dengan demikian, pimpinan dekanat Fisipol tersebut melanjutkan kepemimpinannya untuk periode ke dua. Periode pertama dilaksanakan pada 2020-2024.

Senat Fisipol melanjukan sidang untuk memilih wakil dekan di ruang Nusantara, Jumat, 2 Januari 2024. Rapat Senat dihadiri dihadiri 11 orang anggota Senat.

Menurut Ketua Senat Dr. Oktiva Anggraini, SIP.S.Pd.MSi, sidang memilih wakil dekan merupakan kelanjutan dari pemilihan Dekan Fisipol. Sesuai fungsinya, maka Senat Fisipol memberikan pertimbangan bagi nama-nama yang diajukan oleh dekan terpilih, dan sekaligus menghormati tradisi dialog antaranggota senat dan elemen lain di fakultas.

Rapat senat lanjutan menyepakati  Wakil Dekan I (akademik) dijabat oleh Dwi Astuti, S.Sos., M.Si, dan  Wakil Dekan II (keuangan) Dyaloka Puspita Ningrum, S.I.Kom., M.I.Kom.

“Keduanya telah dipilih dengan berbagai pertimbangan dan dinilai tepat untuk bekerjasama dengan dosen dan tendik serta  menghadapi tantangan ke depan. Tantangan terdekat penambahan dua program studi baru.”

Oktiva Anggraini menyampaikan respek atas dukungan semua anggota senat dalam memilih dan memutuskan struktur personal dekanat.

Harapannya, smua sivitas akademika untuk mengingatkan kolaborasi antarprodi dalam berbagai kegiatan di internal fakultas maupun di Masyarakat. Kolaborasi ini sangt diperlukan dalam memenuhi standar penilaian penjaminan mutu dan akreditasi lembaga perguruan tinggi.

Dekan terpilih As Martadani Noor menyatakan, pemilihan dekan sebagai bagian dari proses  untuk perubahan dan kemajuan fisipol. Penyegaran kepemimpinan juga sebagai bagian cara evaluaai masa lalu dan diikuti dengan  sikap untuk menatap masa depan (prospektif). Evaluasi menjadi titik tolak pembenahan untuk pemandu meraih capaian kemajuan.

“Kami sivitas akademika Fisipol UWM  menunjukkan sikap optimis dengan kebijakan dan kegiatan yang berbasis pada  tanggungjawab,  berintegritas, transparansi, taat regulasi, akademis, kerjasama dan kesetaraan.”

Martadani menyadari Fisipol UWM  harus menjawab tantangan kini dan masa depan yang semakin kompleks. Strateginya membangun konektivias multi-sektoral, dengan menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi  yang dibarengi dengan meningkatkan konekvitas multi disiplin, pelayanan, kerjasama dengan  ragam stakeholder dan penguatkan Good Governance University (GCG).***

GEN-Z DAN GERAKAN BERKAIN BERKEBAYA DI LINGKUNGAN KAMPUS

Membuka lembaran baru di awal tahun 2024, tepatnya pada hari Rabu 3 Januari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB telah dilaksanakan kegiatan Banyuraden Art Festival dengan tema “Harmonisasi Budaya dalam Keberagaman” di kawasan Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram. Kegiatan tersebut dihadiri peserta sebanyak 65 orang atau tamu undangan yang terdiri dari sivitas akademik internal ataupun pihak eksternal di sekitaran wilayah Yogyakarta.

Dalam rangka menyelesaikan produk akhir perkuliahan pada mata kuliah Manajemen Event, mahasiswa semester 7 di Program Studi Ilmu Komunikasi ini menggelar beberapa hiburan menarik, diantara : (1) pameran kain nusantara “Javanese Batik Art Culture”, (2) talk show dengan tajuk “Budaya Kontemporer Vs Budaya Lokal dalam Perspektif Kaum Muda”, serta “Apresiasi Kaum Muda dalam Membangun Tren Fashion Berkain Berkebaya”, (3) fashion show “Berkain Berkebaya” dan (4) bazar kuliner yang dimeriahkan oleh sejumlah pelaku UMKM lokal.

Dyaloka Puspita Ningrum,S.I.Kom.,M.I.Kom, menyatakan, kegiatan itu pun diharapkan dapat menjadi semangat yang besar sekaligus energi positif terhadap generasi muda agar semakin melek budaya, terutama untuk mencintai busana lokal yang ada. Disamping memang merebaknya syndrome Fear of Missing Out (FOMO) dan perilaku konsumtif publik yang kian populer di media sosial. Sehingga kondisi tersebut dapat pula dioptimalkan di lingkungan kampus Universitas Widya Mataram sebagaimana Visi “Menjadi Universitas Berbasis Budaya yang Unggul dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”.

Banyuraden Art Festival ini juga berkolaborasi secara langsung dengan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai oleh Dyaloka Puspita Ningrum,S.I.Kom.,M.I.Kom, sekaligus merupakan dosen pembimbing dari  kegiatan tersebut.

Mendatangkan 2 narasumber praktisi yang berasal dari Abdi Dalem Kapujanggan yaitu Muhammad Ilham Fajar,S.S dan konten kreator yaitu Haura Amalia,S.Pd, sejumlah anggota aktif dari himpunan mahasiswa ilmu komunikasi (HIMAKOM) turut berkontribusi dalam kemeriahan acara itu. Bahkan pihak fasilitator pun menyiapkan berbagai doorprize menarik sebagai bentuk apresiasi terhadap peserta kegiatan yang hadir di lokasi kegiatan.

Lima Dosen Fisipil Memenuhi Syarat Menjadi Dekan

Sebanyak lima orang dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Widya Mataram (Fisipol UWM) memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai kandindat dekan masa jabatan 2024-2028.

Para dosen yang mencapai kepangkatannya sebagai bakal calon dekan adalah Dra. Syakdiah, M.Si, Retno Kusumawanti, S.Sos, M.Si, Dr. Octiva Anggaraini, M.Si, Suwarjo, SIP, M.Si, Dr. As Martadani, MA.

Nama-nama bakal kandidat tersebut terungkap dalam Sosialisasi Bakal Calon Dekan yang dipimpin panitia pemilihan Tommy Satriadi, S.IKom, MA, di Yogyakarta, Jumat (9/12/2023).

Dekan Fisipol periode 2018-2023 Dr. As Martadani, MA akan berakhir masa jabatannya pada Februari 2023.

Tommy Satriadi menyampaikan aturan main pencalonan kandidat dekan. Pencalonan secara perorangan, pangkat yang bersangkutan lektor kepala dan bersedia mencalonkan diri. Calon dekan minimal tiga orang. Apabila jumlahnya kurang dari ketentuan tersebut, maka calon dari pangkat lektor bisa mencalonkan.

“Proses pemilihan dimulai dengan pencalonan dosen bersangkutan dengan mengisi formulir kesediaan dipilih menjadi dekan, pemilihan dilaksanakan secara langsung dan bebas oleh seluruh anggota senat Fisipol UWM.”

As Martadani menyatakan, pergantian dekan tetap mengutamakan kebersamaan meskipun pencalonan secara individu. “Pelaksanaan tetap saling bekerjasama antarsivitas akademika Fisipol UWM.”

Sekretaris Senat Fisipol UWM Puji Qomariyah, S.Sos, M.Si, menyatakan, Fisipol memiliki kebiasaan kearifan lokal dalam pemilihan dekan. Mengingat sulit yang mememuhi syarat inisiatif untuk mencalonkan dirinya sendiri, perlu ada sikap kekeluargaan untuk menemukan kandidat yang benar-benar bersedia menjadi dekan.

Ketua Senat Fisipol UWM Dr. Octiva Anggaraini, M.Si merespon pendapat tersebut dengan mengajak para bakal kandidat yang memenuhi syarat untuk bertemu dan berdiskusi untuk menciptakan pemilihan dekan yang efisien dan efektif. Pertemuan itu dijadwalkan di Kampus Terpadu UWM Jl. Tatabumi Selatan, Banyuraden, Gamping, Sleman.***

Humas Fisipol UWM

Cosplayer dan Penggemar Anime Jepang Sukseskan Bunka No Masturi #2

Reporter : Raswatilorita

Foto : Panitia Bunka

Puncak Bunka No Matsuri #2, (Minggu/19/11/2023) dimeriahkan  penampilan cosplayer dan penggemar wibu Yogyakarta dan sekitarnya di Kampus Terpadu UWM, Jl. Tata  Bumi Selatan, RT.06/RW.08, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten  Sleman, Yogyakarta.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UWM, Tommy Satriadi  Nur Arifin, S.I.Kom,. MA menyatakan, peserta dan komunitas penghobi budaya Jepang dari berbagai genre seperti gamer, cosplayer, dan penggemar anime Jepang sangat antusias sehingga puncak Bunka No Masturi#2 sangat meriah dan penyelenggaraannya sukses.

Bunka No Matsuri #2 menampilkan berbagai perlombaan, seperti fashion show para coplayer dengan memakai kostum sesuai dengan karakter favorit mereka. Sesi ini menjadi acara yang ditunggu tunggu oleh para pengunjung sebab pada acara inilah meraka dapat melihat berbagai kostum yang dibawakan oleh para cosplayer.

Cosplyer Anime, Elisa Hana mengaku kostum yang dibawakan olehnya terinspirasi dari tokoh Momokai Sakurai yang berada pada anime “Cinderlla Grils”. Elisa menambahkan sangat senang dengan adanya acara Bunka No Matsuri #2 dengan ruang terbuka seperti pendopo menjadi daya tarik yang berbeda dengan perayaan Bunka No Matsuri sebelumnya.

Sesi ini menggundang antusias yang cukup tinggi dari pengunjung terutama bagi mereka yang kagum dengan kostum yang dipakai oleh peserta saat sesi fashion show.

Pengunjung Bunka No Matsuri #2, Tegar Setya Budi menyatakan menikmati acara.”Saya berharap kegiatan ini sebagai rintisan untuk membentuk wadah  ekspresi diri dengan cara berpakaian seperti tokoh favorit dalam cerita film maupun kartun  Jepang.

Panitia menggandeng beberapa UMKM sekitar kampus yang berada di booth kuliner agar peserta dan penonton dapat menikmati acara sekaligus kulineran di sekitar area acara.

Penjaga bazar kuliner makanan dan minuman ringan, Nur Fitri menyatakan, bazar Bunka No Matsuri #2 cukup ramai pada puncak acara dibandingan dengan hari pertama. Para pengunjung antusias untuk menikmati berbagai hidangan di booth kuliner. Ini menguntungkan bagi para pengelola kuliner.

“Saya perhatian stand booth kuliner jumlahnya banyak,dan pengunjung menikmati berbagai makanan dan minuman yang dijajakan,” kata TommySatriadi.

 Volunter, mahasiswa program studi Sosiologi Fisipol UWM Tomi Kurniawan menyatakan sangat senang bisa membantu panitia untuk kelancaran acara.

“Para volunter senang dan bersemangat dengan hadirnya para mahassiwa dan pendemen Bunka No Masturi. Kami berharap acara serupa dilanjutkan dan penyelenggara tetap bekerja sama lagi dengan fisipol UWM.”

Bunka No Matsuri #2 Wibu Naek Kelas Siap Menyambut  Para Coplayer Yogja

Reporter : Raswatilorita (Mahasiswa Ilmu Komunikasi)

Kolaborasi Komunitas Bunka Festival dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM) siap menyambut para cosplayer Yogyakarta dan sekitarnya di Kampus Terpadu UWM, Jl. Tata Bumi Selatan, RT.06/RW.08, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu-Minggu ( 18-19/11/2023).

Ketua Panitia Perayaan Bunka No Matsuri #2, Resha Matantya Prabowo menyatakan, perayaan Bunka No Matsuri #2 mengangkat tema “ Cross Culture”,yang memadukan sentuhan budaya Jepang dengan budaya Indonesia. Tujuannya memberi pemahaman bagi masyarakat tentang peran penting lembaga pendidikan dalam pembentukan pemikiran dan penelitian.

Para cosplayer ternama yang direncanakan hadir para puncak acara Minggu (19/11/2023) CrossXover, Kohi Sekai, Minerva Land, E-Qourz, Bring Back The Sanity, Depweb Dolphin, Nasrul, Kraugel.  Kemudian Nakama Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta Itasha  Community, Faijo (Fighting Jogja), dan Arknight

Bunka No Matsuri #2 diramaikan dengan ajang perlombaan, di antaranya kontes lypsync  cosplay.Perlombaan ini dipandu oleh master of ceremony (mc), Icha dan Iyan,  dan juri penilai, Faiz Oda.

Kepala Bagian (Kabag) Tenaga Kependidikan Fisipol Tosan Surya Adi, A.Md. mengatakan, persiapan pelaksanaan telah memasuki 95%, 5 % sisanya finalisasi pengaturan tempat dan blocking boothnya.

“Semua kelengkapan kegiatan bisa diatasi dengan bantuan dari beberapa pihak seperti pimpinan fakultas, tenaga pendidik dan mahasiswa yang menjadi volunter di acara tersebut”.

Tosan menambahkan, Bunka No Matsuri 2 sebagai lanjutan acara sebelumnya, menghadirkan lebih banyak kejutan, seni, dan budaya yang menginspirasi.

“Acara ini sebagai wadah yang mendorong pemahaman yang lebih baik tentang budaya Jepang dan Indonesia melalui fenomena Cosplay, mendorong dialog dan pertukaran antarbudaya dua negara, dan memberikan panggung bagi seniman-seniman Jepang dan Indonesia.”

Harapan berikutnya, kegiatan seni mmembangkitkan komunitas pengusaha dan pengrajin local. Panitia memberi mereka kesempatan untuk memamerkan karya-karya mereka di tenant booth. ***

Mahasiswa Fisipol UWM Bisa Lulus Kurang Empat Tahun

Kuliah sarjana strata satu (S1) bisa ditempuh dalam waktu kurang empat tahun, dengan kualitas tetap terjaga, yang ditandai indek prestasi kumulatif (IPK) lebih dari cukup dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipil) Universitas Widya Mataram (UWM).

Mahasiswa Administrasi Publik, Endang Rukmini Endarwati bisa selesai kuliah dalam waktu 3 tahun 11 bulan, meraih IPK 3.88 (cumlaude).  Lulus dalam waktu yang sama Aulia Aziza (Prodi Ilmu Komunikasi,3 tahun 11 bulan). Kemudian Ranika Rahayu dari Prodi Sosiologi.

Rektor UWM Prof. Dr.Edy Suandi Hamid menyatakan terkesan dengan mahasiswa lulus cepat dan IPK tinggi.

“IPK sarjana saya 3,4 atau 3,5. Itu IPK kecil dibanding mahasiswa lulusan sekarang. Saya terkesan dengan mahasiswa Fisipol UWM bisa mendapat IPK besar dan masa kuliah kurang dari empat tahun,” kata Edy Suandi Hamid.

Pendapatnya disampaikan saat sambutan acara Yudisium dan Pelepasan Calon Wisudawan Fisipol Semester Genap 2022/2023.

Meraih IPK besar sangat membanggakan, kata Edy Suandi Hamid, karena nilai akhir kuliah menjadi modal untuk menatap masa depan atau mencari kerja bagi yang belum bekerja.

“Anda yang meraih IPK besar sudah memiliki modal awal untuk terjun ke masyarakat. Bagaimana dengan mahasiswa dengan IKP biasa-biasa saja atau lebih rendah dari peraih IPK tertinggi? Saya pesan jangan berkecil hati.”

Menurutnya, IPK bukan variabel tunggal yang menentukan lulusan PT bisa sukses atau sebaiknya. IPK besar maupun kecil bisa mengantarkan sukses ketika dipadukan dengan ketrampilan lunak (soft skill).

“Ketrampilan lunak berupa kemampan komunikasi yang efesien dan efektif, kemampuan adaptasi dengan keragaman budaya, dan kemampuan kememimpinan.”

Dekan Fisipol UWM Dr As Martadani Noor, MA menjelaskan, fakultanya meluluskan 23 mahasiswa untuk wisuda semester genap tahun akademik 2022/2023. Wisuda dilaksanakan Sabtu, 2 September 2023 di Kampus Terpadu UWM.

Para wisudawan dari Fisipol lulus dari Prodi Administrasi Publik sebanyak 14 orang, Sosiologi 6 orang, Ilmu Komunikasi 3 orang.

Para lulusan fisipol, kata Martadani, hendaknya menerapkan cara berpikir komprehensif dan kritis saat terjun ke masyarakat. Pikiran demikian sebagai bagian dari menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah.

“Kita bisa merasakan pengetahuan itu bermanfaat saat kita dihadapkan dengan persoalan di tengah masyarakat. Saran saya terapkan cara berpikir komprehensif.”

Akselerasi Pendidikan Menjadi Pilihan Paling Rasional

Universitas Widya Mataram (UWM) selalu menatap ke depan untuk melakukan terobosan dalam meningkatkan kualitas pelayanan Pendidikan dan pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan tinggi. Langkah tersebut mencakup penyesuaian kurukulum perkuliahan maupun infrastruktur fisik penunjang Pendidikan.

“Kami selalu berpikir dan bertindak secara progresif dan akseleratif. Ini pendekatan yang paling rasional bagi civitas akademika UWM dalam menyelenggarakan pendidikantinggi,” kata Ketua Panitia Dies Natalis Ke-41 Uwm 2023 Dr. As Martadani Noor, MA.

Selama empat dasawarsa menyelenggarakan pendidikan tinggi, UWM telah memainkan peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menjadi tulang punggung masyarakat dalam mengelola proyek dan pekerjaan serta mengatasi berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan lainnya.

“Itu dibuktikan dengan hadirnya 9.717 orang alumni yang memiliki pekerjaan maupun profesi terhormat di tengah Masyarakat,” kata Martadani.

Sejalan dengan dinamika persoalan kemasyarakatan dan kemajuan teknologi, UWM melakukan berbagai penyesuaian kurikulum yang sesuai dengan dinamika zaman dan tantangan dalam masyarakat.

Dari segi infrastruktur pendidikan berupa gedung telah dibangun menjadi Kampus Terpadu di Jalan Tata Bumi Selatan, RT.06/RW.08, Area Sawah, Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Gedung ini melengkapi kampus klasik di Dalem Mangkubumen KT III/237 Yogyakarta.

Langkah-langkah strategis itu menjadi karakter dari sikap progresif dan langkah akseleratif UWM. Kondisi ini menjadi alasan mendasar Dies Natalis ke-41 UWM mengusung tema “Progresif Akseleratif Membangun UWM yang Kompetitif”.

Ekspresi pemikiran tersebut sesuai dengan visi pendiri UWM,  Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama KGPH Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DIY). Dalam pidato peluncuran kampus ini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan,  “Saya mendirikan Universitas Widya Mataram tidak untuk menambah deretan panjang jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, tetapi saya ingin memberikan alternatif bagi dunia pendidikan di Yogyakarta”.

Rangkaian kegiatan

Manyongsong peringatan kelahiran ke-41 UWM pada 7 Oktober 2023, panitia dies menyiapkan serangkaian kegiatan bernuansa pemberdayaan intelektual, peningkatan kebugaran fisik, dan kegiatan spiritual.

Pemberdayaan intelektual dalam bentuk kegiatan-kegiatan ilmiah, di antaranya workshop “Inkubasi Bisnis dengan Pemanfaatan Digital Marketing”, “Etika Digital untuk Generasi Online”, “Digital Bermartabat di Dunia Maya”, “Literasi Digital untuk Anak dan Remaja”.

Kegiatan intelektual terkait seperti Kompetisi Video TikTok Mahasiswa dengan tema “Raih Masa Depan di UWM”, E-Sport Competition , Lomba Sketsa dan Walking Tour, Food Festivald. Lomba Pidato Bahasa Inggris.

Penyegaran fisik dan hiburan antara lain turnamen olah raga, jalan sehat, lomba senam, karaoke, menghias tumpeng. Kegiatan spiritual seperti ziarah dan doa di makam pendiri UWM, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, di Makan Raja-raja di Imogiri, perhelatan malam renungan bersama.

Rangkaian kegiatan  itu berlangsung selama September sampai Oktober 2023. “Kegiatan melibatkan para dosen dan karyawan serta masyarakat umum terutama warga di lingkungan Kampus Terpadu UWM Banyuraden,” kata Martadani.

Sosiologi UWM dan UTM Menjalin Kerjasama

Program Studi (Prodi) Sosiologi Fakultas Universitas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Widya Mataram (Fisipol UWM) dan Prodi Sosiologi Fakultas Ilomu Sosial dan Ilmu Budaya (Fisib) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) saling bersapa dan membicarakan peluang kerjasama Tridharma Perguruan Tinggi di bidang pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Penjajakan kersajama berlangsung dalam pertemuan kedua pihak di Ruang Nusantara Fisipol UWM Yogyakarta, Kamis (13/7/2023).

Hadir dalam kesempatan itu Ketua Prodi Sosiologi Fisib Dr. Arie Wahyu Prananta, M.Sos, Dr. Agustinus Gergorius Raja Dasion, S.S., M.A, Mohammad Afifuddin, S.Sos., M.A, sementara tuan rumah hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Puji Qomariyah, S.Sos, MA, Dekan Fisipol UWM Dr. As Martadani Noor, MA, Wakil Dekan Bidang Akademik Tommy Satriadi Nur Arifin, S.I.Kom., M.A,  Ketua Prodi Sosiologi Paharizal S.Sos, MA, dosen sosiologi Dwi Astuti, MA, dan Dr. Mukhijab, MA.

Martadani menyatakan Fisipol UWM menyampaikan apresiasi atas kunjungan jajaran Prodi Sosiologi UTM. “Ini suatu kehormatan jajaran Prodi Sosiologi Fisib UTM berkunjung ke Prodi Sosiologi Fisipol UWM.”

Menurutnya Prodi Sosiologi beserta dua Prodi lainnya (Ilmu Komunikasi, dan Prodi Administrasi Publik) di Fisipol UWM sangat peduli dengan masalah-masalah sosial, budaya, dan politik. Terdapat sejumlah pengalaman dalam penyelenggaraan Pendidikan, riset, dan pengabdian berbasis pada Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Misalnya program mahasiswa magang, riset dan pengabdian dalam pengelolan sampah dan lingkungan.

Paharizal menyatakan, sumber daya dosen sosiologi sangat mendukung bekerjasama dengan UTM dalam berbagai ranah Tridharma Perguruan Tinggi seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, kolaborasi riset, dan pengabdian masyarakat.

Arie Wahyu Pranata menjelaskan, kunjungannya ke Fisipol UWM untuk menjajaki kerjasama dengan Prodi Sosisologi UWM dalam bidang Pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.

“Kami memiliki program-program yang menarik untuk dikolaborasi antara Prodi Sosiologi UWM dan Sosiologi UTM.”

Dalam bidang pendidikan, dia mencontohkan peluang untuk pertukaran dosen mengajar, bidang riet kolaborasi komparasi kehidupan masyarakat pantai di Kawasan Madura dan Yogyakarta. Bidang pengabdian masyarakat Kemudian Prodi Sosiologi UTM memiliki program rekayasa pengelolaan sampah menjadi briket dan perkakas rumah tangga seperti kursi.

Pada akhir pertemuan, para pihak sepakat untuk menindaklanjuti kerjasama dalam kerangka MBKM. (Humas Fisipol)***

PATRIARKI : TIDAK NAMPAK TETAPI ADA

Berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, masih terjadi di masyarakat, tidak terkecuali di  Yogyakarta. Banyak dan beragam juga jenis kekerasan yang terjadi, mulai dari kekerasan verbal, kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, penelantaran bahkan kekerasan seksual. Hal tersebut terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan di LPPM Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Forum diskusi ini diikuti oleh sukarelawan SIGRAK dari sebagian kelurahan di Kota Yogyakarta. Relawan SIGRAK merupakan komunitas sukarelawan yang menjadi ujung tombak penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Yogyakarta. Organisasi SIGRAK ini berada dalam koordinasi dengan UPT PPA Kota Yogyakarta. Sebagai pemandu dalam diskusi adalah Dwi Astuti, S.Sos, M,Si, pengajar di Program Studi Sosiologi Universitas Widya Mataram. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi keberadaan idiologi patriarki sebagai akar persoalan kekerasan terhadap perempuan serta untuk memberikan rekomendasi penanganan dan upaya prefentif terhadap terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan.

Salah satu yang menjadi fokus pembahasan dalam diskusi ini adalah juga keberadaan idilogi patriarki sebagai sebab munculnya kekerasan terhadao perempuan dalam masyarakat. Dalam diskusi terjawab bahwa sebab teradinya persaoalan kekerasan terhadap perempuan yang paling utama adalah aspek pendidikan dan berkelindan dengan aspek ekonomi. Bagaimana dengan idiologi patriarki? Apakah idiologi patriarki memiliki peran dalam menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan? Dalam diskusi terungkap bahwa kebanyakan penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan adalah rendahnya tingkat pendidikan yang terkadang juda berkelindan dengan aspek ekonomi. Walaupun dalam diakui bahwa beberapa kasus kekerasan terjadi karena cara berpikir yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang lemah atau dibawah laki-laki. Kebanyakan kasus, idiologi patriarki tidak pernah terdeteksi sebagai penyebab langsung terjadinya tindakan kekerasan terhadap perempuan, namun ada juga kemungkinan bahwa masyarakat sudah menjadikan idiologi patriarki ini sebagai hal yang biasa, sehingga dianggap hal yang wajar, bukan sebagai masalah. Idiologi patriarki tidak pernah dianggap sebagai penyebab langsung terjadinya kekerasan terhadap perempuan, namun bukan berarti tidak berpegaruh sama sekali. Contohnya saja relasi suami-istri yang yang menempatkan perempuan lebih lemah dan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki, berada di bawah wewenang dan perintah laki-laki. Rendahnya tingkat pendidikan perempuan korban kekerasan juga berakar dari idiologi petriarki yang tidak memberikan akses pendidikan kepada perempuan seperti terhadap laki-laki. Keterbatasan kesempatan ekonomi pada perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki juga dipengaruhi oleh patriarki yang menempatkan peran publik pada laki-laki dan peran domestik pada perempuan. Selama ini penanganan terhadap kasus kekerasan terutama bertujuan untuk melakukan penanganan kasus. Namun diakui perlu juga menyentuh ranah kesadaran tentang relasi gender laki-laki dan perempuan atau ranah idiologi patriarki. Karena lagi-lagi diakui bahwa edukasi memiliki peran penting dalam menangani dan menghindarkan kekerasan terhadap perempuan, termasuk di dalamnya adalah edukasi terkait kesetaraan relasi gender.

(Humas Fisipol UWM)